Kamis, 20 Oktober 2016

KABUPATEN KARIMUN

Bupati Karimun : Bapak H. Aunur Rafiq, S.Sos., M.Si dan Wakil Bupati H. Anwar Hasyim, M.Si
Kabupaten Karimun adalah salah satu kabupaten di ProvinsiKepulauan RiauIndonesiaIbu kota Kabupaten Karimun terletak diTanjung Balai Karimun. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 7.984 km², dengan luas daratan 1.524 km² dan luas lautan 6.460 km². Kabupaten Karimun terdiri dari 198 pulau dengan 67 diantaranya berpenghuni. Karimun memiliki jumlah penduduk sebanyak 174.784 jiwa. Kabupaten Karimun Berbatasan dengan Kepulauan Meranti di sebelah Barat,Pelalawan dan Indragiri Hilir di Selatan, Selat Malaka di sebelah utara, dan Kota Batam di sebelah Timur.
SEJARAH KARIMUN
Karimun dahulu berada di bawah kekuasaan kerajaan Sriwijaya hingga keruntuhannya pada abad ke-13, dan pada masa itu pengaruh ajaran Hindu dan Buddha mulai masuk ke Pulau Karimun. Hal ini dibuktikan dengan adanya Prasasti yang berada di Pasir Panjang. Pada masa itu disebutkan Karimun sering dilalui oleh kapal-kapal dagang karena letaknya yang strategis di Selat Malaka, hingga pengaruh Kerajaan Malaka mulai masuk pada tahun 1414.
Pada Tahun 1511 Malaka jatuh ke tangan Portugis, sejak saat itu banyak rakyat Malaka yang tinggal berpencar di pulau-pulau yang berada di Kepulauan Riau termasuk di Pulau Karimun, Pulau Kundur, Pulau Buru dan sekitarnya. Sejak kejatuhan Malaka dan digantikan perannya oleh Kerajaan Johor, Karimun dijadikan basis kekuatan angkatan laut untuk menentang Portugis sejak masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah I (1518-1521) hingga Sultan Ala Jala Abdul Jalil Ri'ayat Syah (1559-1591).
KECAMATAN DI KABUPATEN KARIMUN
  1. Kecamatan Karimun
  2. Kecamatan Tebing
  3. Kecamatan Meral
  4. Kecamatan Meral Barat
  5. Kecamatan Kundur
  6. Kecamatan Kundur Utara
  7. Kecamatan Kundur Barat
  8. Kecamatan Buru
  9. Kecamatan Ungar
  10. Kecamatan Belat
  11. Kecamatan Moro
  12. Kecamatan Durai



Ini Kampong Saye....
   Kampong Awak Mane?

Selasa, 18 Oktober 2016

(Sajak) Kepada Peminta-minta – Chairil Anwar

Mac 5, 2015
(Sajak) Kepada Peminta-minta – Chairil Anwar
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku
Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari muka
Sambil berjalan kau usap juga
Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah
Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku
~ Chairil Anwar

Senin, 17 Oktober 2016

TEKS PROTOKOL AKAD NIKAH DALAM BUDAYA MELAYU

Pakaian Adat Melayu

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
Pembawa Acara :

Sekapur Sirih (Pemandu Acara)
Assalamualaikum wr.wb.
Alahamdulillahi rabbil alamin
Walakibatulmuttaqin
Wasalatu wassalam u ala asyrafil anbiya wal mursyalin

Encik –encik
Puan-puan
Tuan-tuan
Yang kecil tak disebutkan nama
Yang besar tak dihimbau gelar
Yang raja dengan daulatnya
Yang datuk dengan kuasanya
Yang penghulu dengan hulunya
Yang Alim Ulama dengan berkitabullahnya
Yang Dubalang kuat kuasa
Yang cerdik dengan ilmunya
Yang Tua dengan tuahnya
YanG Muda dengan tokahnya

Kabar dah bendang kelangit
Berita dan rebak kebumi
Isik-isik lah berbunyi
Karena itulah….
Encik-encik, puan-puan, bapak-bapak, ibu-ibu
Kami jemput kami silakan
Meringan langkah ketempat ini
Berhimpun papat kita disini

Kedatangan
Encik-encik
Puan-puan dan Tuan-tuan
Kami tunggu dengan dada yang lapang
Kami sambut dengan muka yang jernih
Kami terima dengan hati yang suci

Untuk semua itu
Atas nama keluarga Bapak ............................................
Saya sampaikan takniah dan setinggi-tinggi terima kasih
Semoga allah swt membalas budi baik
Encik –encik, puan-puan dan tuan-tuan sekalian

Namun dalam pada itu
Entah terdapat salah dan janggal
Dalam menyambut kedatangan
Encik-encik
Puan-puan dan Tuan-tuan
Entah terseralah adab dan cakap
Mungkin tersalah letak dan tegak
Misalnya
Yang patut tidak dipatutkan
Yang patut disebut tak tersebutkan
Yang tua tak dituakan
Yang Alim Ulama tak dimuliakan
Yang beradat tak diadatkan
Yang bergelar tidak disebut gelar
Yang dahulu dikemudiankan
Kami mohon beribu mohon
Kami mohon beribu ampun dan mohon.
Dari jauh kami menunjung duli
Dari dekat kami mengangkat sembah
Dengan menyusun jari sepuluh
Mohon maaf beribu maaf
Telah dibidalkan oleh orang tua-tua
Telah dipantun yang bijak seni
Tak ada tebu yang tak beruas
Tak ada kayu yang tak berbongkol
Tak ada sungai yang bersampah
Tak ada gading yang tak retak
Tak ada manusia yang tak bersifat khilaf

Encik-encik. Puan-puan dan tuan-tuan
Besar langsat ditepi busut
Besar tak muat didalam peti
Besarlah hajat kami menjemput
Menjadi saksi perkawinan anak kami......

Sudah lama mengikat tudung
Baru kini diampaikan
Sudah lama niat dikandung
Barulah kini disampaikan

Sebagaimana yang tertera dalam jemputan
 (isi tanggal dan bulan saat berlangsungnya acara nikah) ini kita langsungkan
dirumah (isi nama tuan rumah berlangsungnya pernikahan)
Disilahlah tuan pantunkan……..

Penutup Kata : Acara penutup oleh : Pembawa acara (protokol) selesai Doa Perkawinan 

Encik-encik
Puan-puan
Tuan-tuan
Sebelum saya mempersilahkan kepada
Encik-encik
Puan-puan
Tuan-tuan
Undangan, jemputan kami yang mulia
Perkenankanlah saya terlebih dahulu
Menutup acara ini
Dengan sekali lagi memohon maaf dan ampun
Sebab selama kami memandu acara ini
Entah kami tersalah tingkah
Entah kami tersalah langkah
Entah kami tersalah sapa
Entah hidangan kami yang kurang garam
Entah penganan kurang rasa
Entah tempat tidak bersifat
Entah adat tidak bertempat

Kini……..
Encik-encik
Puan-puan
Tuan-tuan
Kami lepas dengan muka yang jernih
Kami iringi dengan doa
Dengan dalam dan selawat penuh berkat
Muda-mudahan
Cahaya sampai kepintu
Seri tempat kemuka
Tuah mengikuti sepanjang jalan
Tak ada batang nan melintang
Tak ada rumput yang menjungkat
Tak ada onak yang masuk menusuk
Taka ada tanah yang bertingkah
Sebagai mana datang
Begitu pula saat pulang
Kami jemput kami antarkan
Kemimpinjam kami kembalikan
Kami jemput dengan destar
Kami antar dengan sembah
Kami pinjam dengan tepak
Kami  rangkai dengan doa
Itulah ucap kata hati
Itulah isi hati kami
Tak bermanis mulut dibibir
Tak bermuka dua
Putih didalam putih diluar
Iklas seikhlasnya
Putihnya dapat disuluhi
Pepatnya dapat diduduki

Encik-encik
Puan-puan
Tuan-tuan yang mulia dan berhormat
Kalau ada sumur diladang, bolehlah kami menompang mandi
Kalau ada umur kita panjang, lain waktu berjumpa lagi
Kalau ada jarum yang patah jangan disimpan didalam peti
Kalau ada silap dan salah mohon maaf setulus hati……….

Akhir kita….. wabillahitaufiq wal hidayah……….
Wassalamu’alaikum warahmatullahhi wabarakatuh.

Rabu, 10 Februari 2016

Mutiara Persahabatan

Wahai Sahabat...
Ingatkah Kau ?
Saat Pertama Kali Kita Bertemu?
Di Kelas ini , Kau Menyapaku Dengan Malu

Ingatkah Kau?
Saat Pertama Kali Kau Menanyakan Namaku?
Dikelas ini, Kau Berkata "Kita adalah Sahabat"

Ingatkah Kau?
Saat Kau Contek Perkalianku, ketika kita sedang ujian?
Dikelas Ini, Kertas dan Bukuku diambil

Sahabat...
Berawal dari kita tak saling kenal
berawal dari kita yang saling tak setia
namun sekarang.
kita menjadi kawan,
menjadi sahabat,
menjadi saudara
dan kini kita bersama

Namun sahabat...
Hari Kini Kian Berlalu
Waktu Kita telah Berputar

Kita tak lama lagi disini
kita tak lama lagi bersama

kuharap suatu saat nanti 
disaat kita bahagia
kita bersama berkumpul kembali
menjulang kesuksesan kita dimasa depan
dan...
jangan pernah lupakan kenangan kita bersama

Kamis, 12 Maret 2015

Gurindam I

Ini gurindam pasal yang pertama
Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang ma'rifat
Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahari.
Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang terpedaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah ia dunia mudarat.

Gurindam II

Ini gurindam pasal yang kedua
Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat dua temasya.
Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.

Gurindam III

Ini gurindam pasal yang ketiga:
Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah,
nescaya dapat daripadanya faedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi'il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjalan yang membawa rugi.

Gurindam IV

Ini gurindam pasal yang keempat:
Hati kerajaan di dalam tubuh,
jikalau zalim segala anggota pun roboh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.

Gurindam V

Ini gurindam pasal yang kelima:
Jika hendak mengenal orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Gurindam VI

Ini gurindam pasal yang keenam:
Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh menyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi.

Gurindam VII

Ini Gurindam pasal yang ketujuh:
Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah tanda hampir duka.
Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.

Gurindam VIII

Ini gurindam pasal yang kedelapan:
Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syirik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
kebaikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.

Gurindam IX

Ini gurindam pasal yang kesembilan:
Tahu pekerjaan tak baik,
tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.

Gurindam X

Ini gurindam pasal yang kesepuluh:
Dengan bapak jangan durhaka
supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat
supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai
supaya dapat naik ke tengah balai.
Dengan istri dan gundik janganlah alpa
supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil
supaya tangannya jadi kapil.

Gurindam XI

Ini gurindam pasal yang kesebelas:
Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.
Hendak marah,
dahulukan hujjah.
Hendak dimalui,
jangan memalui.
Hendak ramai,
murahkan perangai.

Gurindam XII

Ini gurindam pasal yang kedua belas:
Gurindam Dua Belas, pasal yang ke  12

Raja mufakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh inayat.
Kasihkan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta.